Kamis, 15 Januari 2015
Sejarah Batik Tulis Lasem
SEJARAH BATIK TULIS LASEM
Berbicara mengenai batik Lasem, seharusnyalah kita melihat jauh ke belakang sejarah awal siapa yang memulai membuat batik di Lasem, agar kita bisa mengerti mengapa ragam hias/corak motif dan pewarnaan batik Lasem bisa seperti yang kita lihat selama ini.
Pada era Majapahit baik menurut buku Pararotan maupun buku Negara Kertagama (pupuh X/2), Majapahit terdiri dari 11 kerajaan kecil-kecil yaitu Lasem, Mataram, Daha, Pajang, Singasari, Wirabui, Wengker, Kahuripan, Peguhan, Matahun dan Panuwuhan yang diperintah oleh Paduka Bhattara/Bhre dengan pangkat Adipati. Pelabuhan Lasem ini berlokasi di Caruban, dan ditunjang dengan galangan kapal yang terbesar di Pulau Jawa di Dasun, saat itu sampai era penjajahan Jepang.
Peranan Lasem dalam kerajaan Majapahit dapat diketahui dari keanggotaan Adipati Lasem dalam Lembaga Pohon Narendra (Lembaga Pertimbangan Kerajaan sebagai Penasehat Raja) yang terdiri dari 7 Adipati dari 11 Adipati Majapahit.
Di dalam kitab Lontar Sabda Badrasanti yang merupakan catatan sejarah Kerajaan Lasem yang mulai ditulis pada tahun 1273 Saka (1351 M) semasa Kerajaan Lasem diperintah oleh Ratu Dewi Indu (Dewi Purnama Wulan), dapat dibaca tulisan yang menceritakan awal dari pembuatan batik di Lasem. Dewi Indu adalah adik sepupu Prabu Hayam Wuruk dimana pada tahun 1276 Saka (1354 M) beliau menyempatkan diri berkunjung ke Lasem. Dalam buku Sabda Badrasanti tertulis bahwa armada Laksamana Cheng Ho mampir ke Lasem untuk berobat. Dari buku tersebut pada halaman 45 dikutip : pada tahun Saka 1335 (1413 M) datanglah ke Lasem nahkoda Bi Nang Un dalam rombongan Laksamana Cheng Ho ke Nusantara (yang ketiga).
Bi Nang Un melihat Lasem adalah daerah yang subur makmur dan masyarakatnya yang ramah serta penuh kekeluargaan ditambah banyak orang-orang Cempa (Campa) beranak pinak disana, akhirnya meminta ijin kepada Laksamana Cheng Ho untuk tak meneruskan pelayaran karena beliau mau menetap di Lasem. Adipati Lasem saat itu Pangeran Wijayabadra mengijinkan Bi Nang Un untuk tinggal di Lasem apabila Bi Nang Un telah menjemput/membawa keluarganya dan membawa barang-barang yang belum ada di Pulau Jawa saat itu. Kedatangan kembali Bi Nang Un dengan istrinya yang bernama Na Li Ni beserta putra pertama Bi Nang Un (5 tahun) dan putri bungsu Bi Nang Ti (3 tahun) disertai pula dengan warga Campa lain yang ahli membuat batik, perhiasan emas, pengrajin gamelan dan beliau membawa pula bibit ketan hitam, mangga blungko, tebu, delima, ayam cempo, merak berbulu biru dan padi klewer.
Bi Nang Un awalnya tinggal di Kemandung/Kemendung (Lasem Selatan), kemudian pindah ke daerah yang sekarang bernama Binangun (daerah pantai Bonang sekarang). Di Kemendung, Na Li Nu memberi pelajaran kepada putri-putri Kemandung (juga kepada putra putrinya) cara membuat : dompet tembakau dari bulu merak, tari menari dan membuat batik, menyulam, menenun dan membuat jamu. Dengan demikian kita mengetahui bahwa yang pertama-tama membuat batik di Lasem.
Bi Nang Ti akhirnya menikah dengan cicit Dewi Indu yaitu prabu Badranala. Setelah Prabu Badranala diangkat menjadi Adipati Lasem, nama Bi Nang Ti dirubah menjadi Winarti Kumudawardani . Setelah Bi Nang Ti wafat, jenazahnya dikuburkan di Bukit Regol (di Pantai Bonang sekarang) dalam area yang sangat terkenal dengan nama petilasan Sunan Bonang, juga dapat menemui makam Putri Cempa ini.
Kembali ke komunitas Cempa perintis batik Lasem, mereka membuat batik dengan ragam hias dan warna sesuai dengan akar budayanya yaitu budaya Cempa yang dipengaruhi budaya China. Kebudayaan dan kepercayaan China kuno sangat kaya akan simbol-simbol yang tertera pada hampir semua benda pakai dalam kehidupan sehari-hari seperti pada :
Ukiran dan lukisan pada bangunan dan perabot rumah tangga.
Barang-barang dekorasi rumah.
Barang-barang keramik
Sulaman pada pakaian dan benda lain dari kain.
Simbol-simbol ini semuanya mempunyai arti philosopfis sesuai dengan persamaan phonetic kata benda lain dan simbol-simbol tersebut mempunyai daya magis simpatik yang dihadapkan dapat merangsang orang yang melihatnya mau berfikir positif dengan harapan siapa saja yang melihat simbo-simbol tersebut akan berlaku benar, bertambah arif bijaksana dan tambah mulia sesuai dengan pesan simbol tersebut.
ARTI SIMBOL-SIMBOL YANG TERGAMBAR PADA SEBAGIAN BATIK TULIS LASEM
Kupu-kupu (hu-die) :Simbol keceriaan dan harapan panjang usia.
Kupu-kupu dengan bunga :Simbol panjang umur dan kesempurnaan. Meu-hua (sakura)
Kelelawar (pian-fu) :Simbol nasib baik.
Ikan (Ii) :Simbol kekayaan
Ki-Lin (qi-lin) :Simbol kebijakan sempurna, umur panjang, kebesaran hati, kepatuhan dan rasa hormat pada orang tua.
Naga (long) :Simbol lelaki, kekuatan kebaikan, pembawa kesejahteraan dan kebahagiaan.
Lipan/kelabang(wu-gong) :Simbol datangnya rejeki.
Burung hong (feng-hua) :Simbol kewanitaan yang penuh kasih sayang.
Burung hong disandingkan :Simbol keberuntungan dengan naga.
Burung merak (kong-que) :Simbol kecantikan dan kemuliaan.
Burung bangau (he) :Simbol panjang umur.
Burung pranjak (qiao) :Simbol kegembiraan. Kedatangan burung-burung ini di halaman rumah dengan kicaunya yang berisik
dijadikan pertanda akan datangnya tamu.
Delima (shi-liu) :Simbol kesuburan.
Awan (yun) :Simbol peruntungan baik dan kebahagiaan.
Bunga peony (mu-tan) :Simbol keperawanan dan keistimewaan. Bunga peony dianggap ratu dari semua bunga, karena sangat
indahnya.
Bunga seruni (ju) :Simbol panjang umur/tahan lama.
Bunga magnolia (mu-lan) :Simbol kecantikan .
Bunga teratai (lian-hua) :Simbol kesucian dan kesempurnaan.
Bunga mawar (qiang-wei) :Simbol keremajaan tapi bukan berarti cinta.
Bunga Narcissus (shiu) :Simbol harapan akan keberuntungan dalam Xian tahun yad.
Bunga sakura (mei) :Simbol keberuntungan bagus dan ketulusan.
Coin (qian) :Simbol rejeki.
Swastika (wan-zi) :Simbol keberuntungan besar.
ARTI WARNA DALAM KEBUDAYAAN CHINA
•Putih ( pai ) : Simbol lanjut usia dan kesucian.
•Hitam ( hei ) : Simbol kegelapan dan kematian.
•Merah ( hong ): Simbol kegembiraan dan kekayaan.
•Hijau ( lu ) : Simbol kehidupan yang negative, karenanya selalu harus dikombinasikan dengan warna merah.
•Biru ( lan ) : Simbol harapan datangnya kedudukan yang lebih tinggi.
•Kuning ( hua ): Simbol ketenaran, maju berkembang.
•Ungu ( zi ) : Simbol ketenangan dan loyalitas.
Sumber :Pengrajin Batik Tulis Lasem , Dekranasda, Dinbudparpora Kabupaten Rembang
Jumat, 19 Desember 2014
INFORMASI EVENT PARIWISATA KAB REMBANG
INFORMASI EVENT PARIWISATA KAB REMBANG
|
No
|
Kegiatan
Tradisi / Keagamaan / Budaya
|
|
1
|
Sedekah
Bumi
Diperingati
tiap tahun masyarakat desa setempat karena merasa bersyukur atas semua rahmat
dan berkah Allah swt, dengan mengadakan selamatan masakan dan jajanan khas
masing-masing desa, serta menampilkan berbagai macam hiburan dan kesenian
rakyat baik modern maupun tradisional.
|
|
2
|
Sedekah
Desa
Diperingati
tiap tahun masyarakat desa setempat karena merasa bersyukur atas semua rahmat
dan berkah Allah swt, dengan mengadakan selamatan masakan dan jajanan khas
masing-masing desa, serta menampilkan berbagai macam hiburan dan kesenian
rakyat baik modern maupun tradisional.
|
|
3
|
Sedekah Laut/ Larungan ( setiap 7 Syawal )
Diperingati
setiap tahun sekali pada bulan Syawal oleh masyarakat desa pesisir pantai,
karena merasa bersyukur atas rahmat dan berkah Allah swt, dengan mengadakan
selamatan masakan dan jajanan khas masing-masing desa dimana sebagian
dilarung ke laut , serta menampilkan berbagai macam hiburan dan kesenian
rakyat baik yang modern maupun yang tradisional.
|
|
4
|
Hari
Kartini setiap 21 April )
Diperingati dengan
serangkaian kegiatan festival/lomba bagi ibu & remaja putri seperti lomba
kuliner, membatik, dll. juga ada festival/lomba kesenian daerah. Kemudian
kegiatan ziarah & tahlil ke makam RA Kartini setiap menjelang,
selama/sesudah peringatan Hari Kartini, serta upacara resmi, tanggal 21
April.
|
|
5
|
Hari Jadi
Kabupaten Rembang ( setiap 27 Juli )
HUT / Hari Jadi Kabupaten Rembang tanggal 27 Juli
1741, dengan dimeriahkan berbagai hiburan dan kegiatan di wilayah Desa/
Kecamatan/ Kabupaten.
|
|
6
|
Malam Syuro ( setiap malam 1 Syuro )
Peringatan malam Syuro di berbagai tempat
diselenggarakan dengan selamatan, tirakatan, dan menikmati pentas cokekan
atau wayang kulit .
|
|
7
|
Syawalan/Kupatan/Lomban
( 1 - 10 Syawal )
Diselenggarakan 7 hari setelah Hari Raya Idul
Fitri, berlokasi di TRP. Kartini
Rembang dengan kegiatan lomban ( wisata laut ), wisata belanja,
pertunjukan-pertunjukan musik, dll.
|
|
8
|
Penjamasan
Bende Becak ( 10 Dzulhijah / Idul Adha )
Pusaka Sunan Bonang berupa “bende” dengan nama
“Bende Becak” berdiameter 10 cm, sebagai alat
mengumpulkan para wali/sebagai tanda pemberitahuan akan terjadinya
peperangan/musibah. Setiap tanggal 10 Dzulhijah (Hari Raya Idul Adha) pukul
09.00 diadakan upacara penjamasan di
rumah juru kunci Desa Bonang. Setelah upacara dibagikan ketan kuning dengan
enti/selai ( dari kelapa manis ) juga memperebutkan air bekas penjamasan, dan kain mori pembungkus
“Bende Becak” yang konon dapat memberikan berkah.
|
|
9
|
Haul
Sunan Bonang ( bulan Selo/Dulkangidah)
Setiap bulan Selo
(Dulkangidah) hari Rabu Pahing. Jika pada bulan tersebut tidak ada hari Rabu Pahing diganti Jumat Legi.
Acara berlokasi di nDalem/ Makam Sunan Bonang di Desa Bonang.
|
|
10
|
Haul
Sultan Minangkabau/Mahmud ( malam Jum’at Wage )
Murid Sunan Bonang dari Minangkabau yang menyebarkan
agama Islam di daerahnya, dan kembali bersama isterinya di Bonang untuk
memperdalam ilmu/ajaran Sunan Bonang; kemudian meninggal dan dimakamkan di
Bukit Jejeruk ( sebelah timur Petilasan Sunan Bonang ). Setiap malam Jum’at
Wage banyak dikunjungi dari berbagai daerah untuk ziarah / bersemedi.
|
|
11
|
Haul
KH.Abdullah Chafidz ( 27 Rabiul Awal )
Ulama Besar yang dimakamkan di belakang Masjid
Agung Rembang. Setiap tanggal 27 Rabiul Awal, diperingati dengan serangkaian
acara khataman Al Quran, tahlil dan pengajian umum.
|
|
12
|
Haul
KH.Syayid Hamzah A.Syato ( 23 Syuro )
Penyebar agama Islam, terutama giat dalam mendirikan
masjid. Banyak peninggalan masjid yang didirikan bersama masyarakat desa,
diperoleh dari hibah/usaha gotong royong. Di masjid Sidorejo merupakan tempat tinggal beliau, setelah meninggal
dimakamkan di dekat pemakaman umum
Demangan desa Sidorejo, dan setiap 23 bulan Syuro diperingati haulnya.
|
|
13
|
Haul
KH. Bisri Mustofa.( 5 Rabiul Awal )
Seorang
ulama yang terkenal sebagai orator ulung, karya tulis salah satunya adalah
tafsir Al-Quran berbahasa Jawa dengan tulisan Arab pegon “Al-Ibris “ 30
juz. Haul beliau setiap tanggal 5
Rabiul Awal di Pondok Pesantren
Roudlatul Thalibin Leteh-Rembang.
|
|
14
|
Haul
KH. Ma’shum Ahmad ( 6 Rabiul Awal )
Setiap
tanggal 6 Rabiul Awal di Komplek Pondok Pesantren Alhidayat di Desa Soditan-
Lasem.Makam beliau di sebelah utara Masjid Besar Lasem.
|
|
15
|
Haul
KH. Baidlawi ( 15 Syawal )
Setiap
tanggal 15 Syawal di Komplek Pondok Pesantren Alwahdah di Desa
Sumbergirang- Lasem Makam beliau di sebelah utara Masjid Besar Lasem.
|
|
16
|
Festival
Thong Thong Lek ( Menjelang Idul Fitri )
Diselenggarakan setiap akhir bulan puasa, yang
merupakan kesenian tradisi penggugah sahur. Jenis musik yang dilombakan
menggunakan alat tradisional bambu & alat modern; dengan pentas keliling
& pentas di panggung. Hadiah
yang diberikan berupa kambing dan penghargaan lainnya.
|
DATA KUNJUNGAN DI OBYEK WISATA DAN HOTEL DI KAB REMBANG
DATA KUNJUNGAN DI OBYEK WISATA
DATA KUNJUNGAN TAMU HOTEL
Jumlah
Kunjungan Obyek Wisata Tahun 2009-2013
No
|
Nama
Obyek Wisata
|
2009
|
2010
|
2011
|
2012
|
2013
|
1
|
TRP.
Kartini
|
213.049
|
269.387
|
391.341
|
1.182.313
|
2.272.241
|
2
|
Museum
RA.Kartini
|
2.836
|
4.562
|
3.027
|
8.384
|
6.372
|
3
|
HW.
Sumber Semen
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
4
|
WW.Kartini
Mantingan
|
51.387
|
5.135
|
21.851
|
10.388
|
7.546
|
5
|
Makam
RA.Kartini
|
48.550
|
19.101
|
16.452
|
22.689
|
58.565
|
Jumlah
|
315.822
|
298.185
|
432.671
|
1.223.774
|
2.344.724
|
|
Pertumbuhan
|
-17.44%
|
-5.58%
|
45,10%
|
182,84%
|
72.48%
|
|
Catatan :
o
Pengunjung yang tidak membayar retribusi tidak
terdata rata-rata sekitar 50 % / thn;
o
Pengunjung Makam RA Kartini banyak yang hanya sekedar
rekreasi di sekitarnya, sehingga yang tidak berziarah tidak terdata;
o
Pengunjung WW Kartini Mantingan terdata hanya yang membayar
retribusi, dan sejak tahun 2008 yang dilaporkan hanya 15%nya yaitu sesuai perjanjian kerjasama yang disepakati.;
o
Pengunjung HW Sumber Semen tidak terdata, karena sejak tahun 2008 tidak dibayarkan yang kemudian difungsikan
sebagai Kawasan Hutan Lindung.
Realisasi Tamu Hotel Kabupaten Rembang Tahun 2009 – 2013
No
|
Hotel/Klasifikasi
|
2009
|
2010
|
2011
|
2012
|
2013
|
Ket
|
1
|
Perdana **
|
2.556
|
2.203
|
1.955
|
1.601
|
1.658
|
|
2
|
Sumberagung *
|
2.784
|
2.197
|
1.886
|
1.515
|
1.608
|
|
3
|
Rahayu *
|
1.411
|
1.362
|
621
|
0
|
-
|
tutup
|
4
|
Gajah/Surya Indah **
|
2.070
|
1.705
|
1.852
|
1.598
|
1.924
|
|
5
|
Wijaya **
|
4.745
|
4.369
|
5.054
|
3.008
|
3.071
|
|
6
|
Jakarta Raya *
|
1.673
|
1.341
|
1.405
|
1.154
|
1.402
|
|
7
|
Pantes.*
|
51
|
54
|
57
|
326
|
432
|
|
8
|
Pantura. **
|
5.153
|
4.504
|
5.739
|
2.576
|
3.874
|
|
9
|
Puri
Indah **
|
2.141
|
3.374
|
4.393
|
2.939
|
3.337
|
|
10
|
Sewu
Beach***
|
1.340
|
1.243
|
546
|
0
|
-
|
tutup
|
11
|
Liberty*
|
36
|
31
|
36
|
292
|
368
|
|
12
|
Kencana
***
|
11.213
|
11.894
|
14.427
|
7.816
|
9.149
|
|
13
|
Larasati*
|
451
|
865
|
2.031
|
806
|
1.065
|
|
14
|
Rantina**
|
976
|
1.521
|
2.279
|
1.764
|
1.737
|
|
15
|
Kartini
|
691
|
1.032
|
1.602
|
1.794
|
2.354
|
|
16
|
Dua
Putri
|
573
|
963
|
1.114
|
1.174
|
1.417
|
|
17
|
Antika
|
-
|
-
|
1.831
|
2.572
|
3.706
|
|
18
|
Tasiksono
|
-
|
-
|
-
|
1.749
|
-
|
|
19
|
Gajahmada
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
Belum didata
|
20
|
Tiara
|
-
|
-
|
440
|
1.443
|
1.630
|
|
Jumlah
|
32.624
|
38.940
|
39.830
|
32.378
|
38.732
|
||
Pertumbuhan
|
56,82%
|
19,36%
|
2,29%
|
-18,71%
|
19,62%
|
||
Langganan:
Postingan (Atom)